Pengalaman ikutan Masterclass Scriptwriting MIGUEL MACHALSKI
Nah, ini kita kedatangan penulis tamu, namanya Baskoro Adi Wuryanto, dia ni emang gila suting beneran.
Lagi di sela-sela pekerjaannya sebagai pegawai kantoran tetep antusias untuk suting, bukan yang komersil lho.
Tapi yang sifatnya lebih sebagai ekpresi gejolak ingin tampil, hehehe. Narsis? Nggak sih, dia juga seorang penulis skenario yang OK masa depannya, tapi juga punya gairah suting yang luar biasa sehingga tetep selalu gila suting, dan kita nerima banget tuh orang-orang kantoran yang pengen iseng melepas kepenatan dan rutinitas kantornya dengan berekspresi melalui film pendek atau video.
Nah, cukup pengantar dari saya, sekarang, rasakan, eh , simak pengalaman dari Baskoro Adi Wuryanto, begini ceritanya:
Guysss… semalem gw abis ikutan Master Class Serunya! di BiNus. The best part is: gw duduk depannya Nicholas Saputra awwwwwwwwwwwwwwww….. wkwkwkwkwkwk pait pait paittt…. ga ding, the best part is: I learned lots of things last evening. Ga cuma ilmu… gw ngobrol ma banyak orang: Dennis Adhiswara, Dimas CCF, Bang John de Rantau, Andi Yusuf Bachtiar, Pidie, Ben, dll…
Dan tentang ilmu, gw belajar banyak hal. Dan ini adalah MIGUEL MACHALSKI, script consultant buat film2 gede, such as: Million Dollar Baby, Slumdog Millionaire, dll… kuliah dosen killer aja gw ga pernah nyatet, ini akhirnya gw nyatet wkwkwkwkwk…
Banyak yang disampein Miguel, yang kita bakal kaget dengernya, gimana cara bikin film menarik, such as: Gw mau angkat cerita, my grandmother for example, cerita ini akan menarik bagi gw. Tapi belum tentu buat orang lain. Nah, kita sebagai scriptwriter punya tugas buat membuat cerita ini menarik bagi orang lain.
Lebih dari separo kelas Miguel, dia membahas tentang CHARACTER. Menurut Miguel, GOOD CHARACTER IS BETTER THAN GOOD PLOT. Vito Corleone lebih diingat daripada plot The Godfather, Forrest Gump lebih diingat dari plot Forrest Gump, dll. Di film, khususnya film Hollywood, dimana Miguel bekerja, bisa makan like 5 - 10 menit buat membangun karakter si protagonis. Tapi ini tidak bisa dibangun di film TV, karena penonton TV punya “impatient thumb” yang bisa ganti ke pilihan lain saat mereka bosan dengan satu channel. Maka di TV, karakter dibangun berbarengan dengan plot. Berikut beberapa cara yang dipakai untuk membangun karakter:
Karakter harus dibangun, seakan2 karakter itu punya hidup sendiri, bukannya si karakter yang ikut dalam mekanisme plot. Intinya adalah JANGAN MAKSA. Miguel ngasih contoh pembangunan karakter yang maksa adalah di film HOSTEL (film by Eli Roth, produced by TARANTINO). Disana, setelah di main character dapet pistol dan nembak calon pembunuhnya, si main character malah kemudian membuang pistolnya, just to make a point bahwa the main character is vulnerable. Orang dengan akal sehat, kalau terjebak di tempat seperti itu, terancam, pasti tidak akan membuang pistolnya.
Berikutnya, libatkan karakter lo dalam bahaya/ konflik. Pikirkan suatu kondisi yang tidak umum, kondisi yang jarang dialami oleh sang protagonis. Contoh: Karakter A, keluar dari rumah, jalan ke halte, terus berangkat kerja naik bus. That is the regular situation. Kita mau buat cerita, jadi kita buat kondisi tidak biasa, missal: Karakter A mo berangkat kerja, terus pas mo jalan ke halte, dia liat mantan pacarnya. Akhirnya ia milih jalan lain, dan sewaktu jalan lewat jalan baru ini, ia dicopet, kemudian saat mengejar copet ini, ia mengalami kejadian dan petualangan yang seru.
Elemen penting berikutnya adalah membagi informasi. Kita ingin informasi yang dibagi itu hanya diketahui oleh penonton, karakter utama, atau hanya kita sebagai penulis. Pertimbangkan kelebihan dan kekurangannya, dan kita ingin meninggalkan efek surprise atau suspense.
Faktor eksternal dan element yang terlihat dari karakter juga harus dibangun. Lebih kurang kita akan membangun apa yang akan kita tampilkan, bagaimana caranya, dan bagaimana urutannya. Dengan ini kita akan membangun: siapa si karakter? Apa yang dikatakan dan dilakukan karakter? Bagaimana cara ia bicara dan bertindak? Apa yang terjadi terhadap si karakter? Contoh: kita membangun seorang karakter B. Ini bisa dilakukan dengan memperlihatkan cara ia merokok. Bagaimana ia melakukannya? Apakah ia duduk tergesa-gesa terus menyalakan rokok? Atau duduk, menatap tajam, dan menyalakan rokok dengan tenang? Hal-hal seperti ini membangun karakter dengan baik.
Kemudian kita juga harus membangun aspirasi karakter. Apa yang diinginkannya? Apa yang BENAR-BENAR diinginkannya? Dan biar lebih menarik, hal apa yang dilakukan secara kontradiktif terhadap keinginannya tersebut.
Smart movie, bisa direpresentasikan dengan: INTERESTING CHARACTER WITH COMPLEX SITUATION dan bagaimana dia menghandle situasi. Kemudian, kita bisa membuat sesuatu yang fokus. Miguel said, “The more you want to please everybody, the worse the movie gets.” Remember TERSANJUNG 1-9?? Atau Cinta Fitri yang udah mo ampe ke 5???
Terus ada lagi pesan si Miguel: “scriptwriting, and directing they’re hell a different jobs. you almost can’t do good at both. When Million Dollar Baby script come to my desk, I was a script consultant back then at Canal Plus, I have to make a review about this script. Clint Eastwood is directing and writing the movie. But as we know that he and Hillary Swank also going to play in it, we know this movie gonna sell. You remember the film? the plot is quite regular, but their acting is brilliant. So we approved it for production. So if you good at writing, just write, and spend your life on writing, get a good director for your film.” Jadi Bang Ari, tenang, gw milih nulis aja deh, ama jadi cast kalo dalam rangka ngirit hahahahahah…
Masih banyak yang gw dapet dari kelas 3 jam kemaren, yang mana gw dateng telat gara2 ada orang parkir paralel di depan mobil gw dan di handbrake, dan akhirnya gw harus ngojek ke BiNus (but it worth everything!). If anybody wants to share, please feel free to contact me via email: superadibas@yahoo.com. Email yang aku kirim, langsung dari laptopku! (hueeeeeeeeeeeeekkkk…)
naise inpoh gan